short story
CINTA ITU MASIH DISINI
Hingga saat ini masih ku rasakan luka hati karenamu. Rasa yang buatku tersiksa selama ini. Mungkin kata-kata ini tak ada artinya di matamu, karna yang kau tau aku bukan siapa-siapa bagimu.
Ya ... Kata-kata itu memang menggambarkan hatiku saat ini. Bagi seorang gadis remaja yang baru menginjak bangku SMA sepertiku, ini memang benar-benar sebuah cobaan, cobaan yang menggoncangkan batinku. Semua ini bukan tak beralasan, dan kisahku berawal dari sini.
Aku Megi, cewek biasa dengan kehidupan yang biasa pula. Awalnya hidupku tak ada yang istimewa sampai akhirnya aku bertemu dengan dia, cowok lucu dengan tampang kerennya, panggil saja, Rio. Kami di pertemukan di sekolah baru setelah di terimanya aku di SMPN 45 Malang, dan kebetulan pula kami berada di satu kelas yang sama ^^.
Pagi itu selayaknya seorang pelajar, aku berangkat ke sekolah baruku, entah kenapa saat itu suasana hatiku sedang buruk (biasalah... Bad Mood). Karena perasaan BT-ku itu, aku hanya diam saja dan tak berbuat apa-apa. Tapi, Rio memang anak yang seru, karna berkat keistimewaannya itu, dia berhasil mengubah suasana hatiku 180 °, menjadi senang dan enjoy. Bukan karena dia seorang yang tampan, ataupun mempesona, tapi karena kejailannya yang serba aneh itu dia membuat luluh hatiku. Dulu aku benar-benar cuek dengan segala macam cowok, tapi untuk cowok yang satu ini berbeda, aku tak mengerti mantra apa yang di buatnya untuk mendapatkan perhatianku, tapi itu memang berhasil. Lama kelamaan aku semakin sering memperhatikannya, semua tingkah lakunya yang selalu membuatku tertawa, wajahnya yang sekaligus enak untuk di padang ^^, dan semua hal yang istimewa darinya.
Suatu ketika, seperti biasanya aku ceritakan semua yang aku alami kepada sahabat terdekatku, tentang banyak hal termasuk keunikkan yang di lakukan Rio di hadapanku. Awalnya sahabatku itu hanya menganggap ceritaku itu sebagai lelucon belaka seperti yang kulakukan biasanya. Sampai suatu ketika setelah aku ceritakan lagi cerita tentang Rio, sahabatku itu menanyakan ‘’ apakah kamu menyukai Rio?’’. Dengan seketika aku menjawab “TIDAK”, tapi sahabatku itu terus mendesak aku untuk mengakuinya. Dan aku pun juga masih bertahan dengan jawabanku. Dan akhirnya sahabat ku itu mengalah.
Tapi... bila dipikir-dipikir mungkin tuduhan sahabatku itu memang benar, setiap apapun yang kuceritakan kepadanya, selalu berkaitan dengan Rio sedikit – sedikit ... Rio...... Lagi-lagi ... Rio... Dan sampai akhirnya baru ku sadari bahwa aku menyukai Rio. Dan itu berarti Rio adalah cinta pertama dalam hidupku. Aku tak pernah barniat untuk mengungkapkan perasaanku ini kepada Rio, aku hanya ingin memendamnya sendiri dalam hati, karna aku tak bisa mengungkannya untuk saat ini.
Semua masih berjalan normal seperti biasa, dengan aku sebagai teman sekaligus sahabat Rio, tapi bedanya hanyalah, aku sabagai sahabat Rio yang menyimpan seuntai cinta di dalam hatiku. Semakin lama, semakin aku tau Rio yang sesungguhnya, yang baik, jail, asik, dan terutama wajahnya yang manis itu . Entah kenapa dimataku Rio seolah-olah tak ada sedikit kekurangan dirinya bagiku. Meskipun seandainya dia mempunyai kekurangan, tapi aku sama sekali tak pernah memperdulikan itu. Yang ku tau bahwa aku menyukai Rio apa adanya.
Sampai suatu ketika, sebuah kejadian yang aku sesalkan hingga saat ini terjadi. Tak sengaja, Rio membaca sepucuk surat yang aku tujukan kapada sahabatku, yang isinya tentang aku menyukai Rio. Entah kenapa sejak itu Rio berubah, sikapnya yang awalnya begitu perhatian sekarang menjadi acuh tak acuh padaku. Entah apa yang dia ketahui dari surat itu, apakah dia sudah tau perasaanku yang sesungguhnya ataupun tidak. Tapi yang jelas sikapnya itu membuatku begitu tersiksa, apakah salah jika seorang sahabat menyukai sahabatnya sendiri ?? bukankah itu bukan perbuatan dosa. Seandainya memang dia tau perasaanku ini, kenapa tak langsung mengatakan yang sesungguhnya kepadaku, bukan malah berlari seperti pengecut.
Ya... aku marah, benar-benar marah. Tak hanya marah yang aku rasakan, tapi sedih. Sedih karena sikapnya itu, apa salah yang kulakukan kepadannya hingga dia lakukan ini padaku. Dan karenanya aku memang GALAU, bahkan GALAU tingkat dewa :p. Entah apa yang harus aku lakukan untuk menghapusnya dari hatiku. Banyak cara yang telah aku lakukan untuk melupakannya, dan kalian tau apa hasilnya ?? semuanya GATOT = GAGAL TOTAL.
Tiga tahun berlalu, dan masih dengan keadaanku yang sebelumnya, MEMPRIHATINKAN. Kini aku sudah lulus dari sekaloh lamaku itu, otomatis aku tak bisa bertemu dengannya lagi. Apalagi aku masuk ke sekolah yang berbeda dengannya, tapi,.. meskipun begitu sering pula aku bertemu dengannya di jalan ataupun di tempat lain saat ada acara- acara band ataupun yang lainlah ( biasalah anak muda ) . Entah kenapa saat bertemu dengannya, aku tak berani melihatnya ‘’ memandangnya seperti biasa yang aku lakukan dulu’’, kini berbeda, bila aku tak sengaja bertemu dengannya, seketika ku palingkan pandanganku darinya.
Entah apa yang terjadi padaku, ini semua membuatku bingung. Tak bisa aku berpikir lagi, semua ini tak masuk akal. Aku menyayanginya, tapi aku juga membencinya. Haaaaaaahhh,,.... aku tak bisa berpikir. Entah lah.,.... Semoga saja semua ini akan segera berlalu dan menjadi normal seperti apa adanya. Seperti kata pepatah, badai pasti berlalu. Semoga itu memang akan terjadi padaku. Aku bisa mengubah suasana hatiku, tapi satu hal yang tak bisa aku ubah, hatiku masih untukmu. Dan cinta itu ,masih di sini.
Bagian PERTAMA
“hah? Nanya? .. ooh apah?”
Kisahku
Bukan harta, emas ataupun perak yang aku inginkan.
Bukan kaya ataupun terkenal yang aku mimpikan.
Tapi kebebasan. Bukan berati aku orang yang tak mau di atur, tapi aku pun ingin kehidupanku sendiri, memilihnya berdasarkan kemauanku sendiri. Dan berharap kehidupanku itu sesuai harapanku. Tapi itu tak berarti aku tak menghargai kehidupanku saat ini, tapi aku hanya ingin bahagia, membebaskan segala kelelahanku akan beratnya menjalani kehidupan. Tak ku sangka hidup ini begitu rumit. Banyak hal yang tak ku mengerti terjadi padaku dan aku tak tau harus bagaimana aku menghadapinya. Bagiku hidup ini bagitu melelahkan, dengan segala kelemahan dan kelebihan yang ku punya ini tak cukup untuk mengatasinya. Apalagi aku yang tak mengerti apapun tentang warna – warni kehidupan ini harus merasakan persoalan hati.
Aku pernah menyukai seorang anak saat aku masih duduk di bangku SMP, dia adalah temanku sendiri. Awalnya aku tak bermaksud menyukainya, tapi bagaimana aku bisa menghalangi rasa ini. Sekuat –kuatnya aku, tak mungkin bisa aku menolaknya. Dan akhirnya, itu terjadi. Aku benar – benar manyukainya. Haha .. mungkin ini terdengar konyol, tapi inilah kenyataan yang terjadi padaku. Aku pun hanya menganggap ini hanya perasaan biasa yang terjadi apabila seorang cowo dan cewe berteman terlalu dekatnya. Aku sadar aku tak mungkin bisa bersamanya, dan akupun tak mungkin menceritakannya, apalagi mau mengungkapkannya .. itu bahkan mustahil bagiku yang cupu ini.
Dan 3 tahun pun berlalu, aku tak mengerti, selama perjalananku selama itu aku tak pernah merasakan rasa yang sama pada orang lain karna aku sadar bahwa dialah cinta pertama yang aku temui. Haha mungkin bagi kalian ini hal biasa, tapi bagiku yang sulit jatuh cinta pada orang lain, aku menderita. Apalagi saat – saat terakhir aku bisa melihatnya, akupun tak bisa menemukannya. Dan selama itu, dengan aku yang yang masih seperti ini masih pula dengan perasaanku sebelumnya, aku bingung. Dan karna itu aku ingin kebebasan, kebebasan untuk memulai kehidupanku dari awal lagi, kehidupan yang tanpa masalah serumit ini.
Untung saja akhir- akhir ini aku bisa sedikit melupakanya, dan aku harap ini akan berlangsung lama. Atau .. selamanya. Dengan kata lain aku ingin melupakannya. Mungkin untuk akhir- akhir ini aku tak mau membuka hatiku untuk siapapun. Sampai suatu saat nanti aku bisa menemukan kebahagiaanku sendiri.
Kisahku Diantara Kalian
Bagian PERTAMA
K
|
ali ini seperti biasanya gue ama Cika pergi ke depan sekolah saat jam istirahat udah bunyi. Tapi sebelumnya gue beli makanan kesukaan gue, permen coklat yang gue beli di kantin tadi. Gue biasanya suka duduk2 di bawah pohon besar di halaman depan sekolah gue .. untungnya di tempat itu cuman gue ama Cika yang sering kesana .. tapi sialnya tempat itu bersebelahan ama lapangan basket. Gue nggak suka banget ama anak-anak basket yang songong itu. Apalagi kapten timnya, tuh anak sok banget .. lihat gayanya aja gue udah enek. Kemaren-kemaren gue waktu baru pindah kesini aja di kerjain ama dia, gimana nggak kesel coba’ .. apa emang tradisi dia ngerjain anak baru di sini .. waktu itu gue nggak bisa ngapa-ngapain gara – gara gue masih anak baru sekaligus dia senior gue.. Kata anak-anak cewe’ tuh cowo’ keren .. idihh keren dari hongkong.. Nggak banget tau .. ih udah lah ngapain ngomongin orang nggak jelas gitu.
“Ri … tadi pagi kamu berangkat ama siapa?”
“aku …??”
“nggak Ri … tuh tukang kebun …”
“haha .. maaf deh akukan bercanda doang Ka ..”
“hmm ..”
“yeh ngambek nih ye …” ku cubit pipi merahnya yang cemkberut itu ..
“ihh apaan sih ..”
“ya maaf deh ka ..”
“iya iya .. tapi ada syaratnya “
“apaan ..?”
“ntar aku pulangnya ikut kamu yah ..!!”
“idih kamu segitu sukanya ya sama kakakku ya? .. hahaha”
“ hihi .. masak ngefans aja nggak boleh .. hahaha “
“iyah iyah ,.. soal itu mah gampang .. “
“emb .. Ri .. kamu bisa bantuin aku deketin kak Rio nggak? hihi”
“aduh duh kayaknya itu mah sulit ..”
“emang kenapa Ri “
“aduh kakakku itu levelnya mah tinggi … hahaha nggak kamu Ka .. eitts … gue bercanda “
“huhu ..”
“oke gue yang atur biar loe ama kakak gue bisa deket ,.. “
“makasih Ri ,.. loe emang temen gue .. “
“buat temen kayak loe gue sih nggak peritungan Ka .. gue juga setuju kalo lo ama kakak gue “
“ih lucu yah nanti lo jadi adik gue donk ..”
“ihh nggak maulah yau .. “
“ hahaha .. adik gue “ seenaknya dia mengacak-acak rambutku.
“ihh apaan sih .. “
“yah ganti dia deh yang ngambek .. jangan ngambek donk ntar aku beliin permen deh ..”
“10 yah ..”
“idih ngambeknya bisa di sogok .. hahaha”
“huh .. yah udah gue gak mau maafin elu “
“ih iya-iya .. mau se kardus pun gue jabanin “
“ hahaha .. iya – iya Ka ..”
“ih iya-iya .. mau se kardus pun gue jabanin “
“ hahaha .. iya – iya Ka ..”
“eh Ri .. ngomong2 kita disini dapet tontonan gratis yah ..”
“tontonan apaan coba’?”
“tontonan apaan coba’?”
“ituh liatin anak basket latihan ..”
“what ..? untung apanya lagi .. yang bener sial tau ..”
“emang kenapa sih ? … ohhh lo ,masih marah ama kapten timnya ya?”
“ya iyalah .. gue di permalukan di tempat umum kayak gitu gimana nggak kesel coba’?”
“ihh iya juga sihh … kalo gue jadi loh gue juga bakalan nggak suka sama dia “
“nah itu loe tau ..”
“tapi … lo juga jangan terlalu benci ama dia .. ntar .. lama2 lo jadi suka deh ..”
“hadeh ,… amit2 jabang bayi .. gue nggak bakalan suka ama dia .. “
“yah terserah apa kata lo aja deh .. “
“what ..? untung apanya lagi .. yang bener sial tau ..”
“emang kenapa sih ? … ohhh lo ,masih marah ama kapten timnya ya?”
“ya iyalah .. gue di permalukan di tempat umum kayak gitu gimana nggak kesel coba’?”
“ihh iya juga sihh … kalo gue jadi loh gue juga bakalan nggak suka sama dia “
“nah itu loe tau ..”
“tapi … lo juga jangan terlalu benci ama dia .. ntar .. lama2 lo jadi suka deh ..”
“hadeh ,… amit2 jabang bayi .. gue nggak bakalan suka ama dia .. “
“yah terserah apa kata lo aja deh .. “
“kalo bisa nih tempat gue pindahin di kebun belakang sekolah .. biar nggak ngelihat tuh anak … ihhh pengen gue bejek2 dia ..”
“sabar Ri .. percaya2 yang udah mahir karatenya “
“hahaha .. bisa aja lo Ka”
“sabar Ri .. percaya2 yang udah mahir karatenya “
“hahaha .. bisa aja lo Ka”
“dukkkk” tiba-tiba bola basket nimpuk kepala gue. Gue langsung nggak sadarkan diri, gue nggak inget apa-apa sama sekali. Gue jatuh diatas rumput di pinggiran pohon tempat gue duduk semula.. Tapi meski gue udah nggak sadarkan diri, gue sempet denger suara Cika manggil2 nama gue. Dan sebelum itu gue sempet ngelihat bayangan seseorang yang ngangkat tubuh gue, tapi nggak jelas karna kena cahaya sinar matahari waktu itu. Saat gue terbangun gue nggak tau gue dimana sekarang, kepala gue pusing banget .. Kyaknya gue ada di UKS, tapi .. kemana Cika?? Gue nengok kamana-mana nggak ada siapa2…
Tiba2 pintu UKS terbuka perlahan-lahan .. gue kira yang masuk itu Cika, ternyata bukan. Yanag masuk malah salah satu anak basket dan untungnya itu bukan kapten timnya.
“ehm .. udah bangun rupanya”
“emb .. i..iya ..”
“emb .. i..iya ..”
“dimana temen gue ..”
“ooh dia … dia gue suruh ke kelas ,.. kan nih udah jam pelajaran “
Gue rasanya pusing banget ,.. gue kayaknya mau jatuh lagi. Gue uda menutup mata, tapi kok nggak jatuh2 ya .. ? ooh tidak gue di tangkep seseorang. Gue buka mata gue dan ternyata gue di tangkep ama tuh anak basket .. OMG .. gue lihat wajahnya dengan sangat jelas, sangat dekat, dan … ternyata dia ganteng amat .. hah … apa yang gue pikirin ,.. gue lepas pelukkannya dan kembali duduk seperti semula. Dan dia juga ngelepasin gue.
“ehm.. ma ..maaf “ katanya sambil mengaruk kepala belakangnya.
“ooh iya makasih”
“tuh kan untung kamu nggak jatuh, udah tidur aja”
“ooh iya makasih”
“tuh kan untung kamu nggak jatuh, udah tidur aja”
Gue kembali tidur dengan posisi gue semula. Ngomong2 gue tadi nglamunin apaan coba’.. hihihhhh gue jadi malu sendiri nih jadinya.. tapi tadi gue pingsan kenapa yah,… Gue juga kayak pernah ngelihat dia sebelumnya, tapi dimana ya.
“ehm .. ngomong2 maaf soal tadi” katanya sambil membuyarkan lamunanku.
“ohh iya nggak papa, gue juga yang salah”
“bukan yang itu.. tapi yang nyebab.in lo pingsan”
“emang tadi gue kenapa?”
“kamu nggak inget apa2 ya?”
“nggak “
“untung aja kamu nggak amnesia”
“yah nggak mungkin dong amnesia? Tapi ngomong2 tadi gue kenapa?”
“tapi sebelumnya gue minta maaf ya!”
“iya .. dari tadi minta maaf terus”
“tadi gue yang bikin lo pingsan, gue ngelempar bola ke kepala lo .. tapi beneran deh gue nggak sengaja”
“hahaha …”
“loh kok lo ketawa”
“lo tuh lucu banget tau”
“lucu apanya”
“lo tuh terlalu takut .. gue nggak papa kali’..”
“kan gue takut lo marah”
“nggak .. gue juga tau kok kalo itu kecelakaan lagian lo juga udah bertanggungjawab kan”
“iya juga sih .. tapi gue masih ngerasa bersalah ama lo”
“ohh iya nggak papa, gue juga yang salah”
“bukan yang itu.. tapi yang nyebab.in lo pingsan”
“emang tadi gue kenapa?”
“kamu nggak inget apa2 ya?”
“nggak “
“untung aja kamu nggak amnesia”
“yah nggak mungkin dong amnesia? Tapi ngomong2 tadi gue kenapa?”
“tapi sebelumnya gue minta maaf ya!”
“iya .. dari tadi minta maaf terus”
“tadi gue yang bikin lo pingsan, gue ngelempar bola ke kepala lo .. tapi beneran deh gue nggak sengaja”
“hahaha …”
“loh kok lo ketawa”
“lo tuh lucu banget tau”
“lucu apanya”
“lo tuh terlalu takut .. gue nggak papa kali’..”
“kan gue takut lo marah”
“nggak .. gue juga tau kok kalo itu kecelakaan lagian lo juga udah bertanggungjawab kan”
“iya juga sih .. tapi gue masih ngerasa bersalah ama lo”
“Udah lah ngapain “
“ehm gimana kalo nanti sepulang sekolah gue traktir lo”
“ahh udahlah nggak usah”
“nggak … lo harus mau”
“ehm gimana kalo nanti sepulang sekolah gue traktir lo”
“ahh udahlah nggak usah”
“nggak … lo harus mau”
“hadu susah ya…”
“ayolah mau kan mau ..?”
“ehm .. karna lo maksa … gue mau deh”
“ayolah mau kan mau ..?”
“ehm .. karna lo maksa … gue mau deh”
“ok gue tunggu lo nanti di parkiran yah .. ok gue harus balik sekarang … cepet sembuh ya ” katanya sambil tersenyum ninggalin gue di UKS sendirian.
Baru kali ini gue ketemu ama cowo’ yang bertanggungjawab banget kayak gitu, segitu takutnya dia kalo gue bakalan marah. Tapi gue seneng cowo macam itu, apalagi inget kejadian tadi. Dia nangkep gue di pelukkannya, padahal tadi dia baru masuk dari pintu .. sampek2 makanan yang dia bawa di lempar begitu aja … hih kesan pertama bagus banget. Tapi ngomong2 namanya siapa ya. Gue sampek lupa nanya. Hahaha …
Setelah tuh cowo yang nggak tau siapa namanya pergi ninggalin gue sendiri di UKS, gue lanjutin deh tidur gue, dan moga2 aja pusingnya cepet hilang.
“Ri … Riri …bangun dong”
“ehmm .. elu Ka… dari mana aja tadi” kata gue sambil membuka mata.
“maaf deh … tadi kan lo udah ada yang jagain”
“hehehe”
“ihh kayaknya lagi seneng nih”
“siapa”
“elu lah masak gua”
“ooh hehehe”
“ayolah cerita .. jangan2 terjadi sesuatu antara lo ama cowo tadi ya?”
“ihh curigaan aja lu”
“trus kenapa lo senyum2 kayak gitu .. jangan2 kepala lo rusak ya gara2 kena bola?”
“ya nggak lah..”
“trus..”
“ihh kayaknya lagi seneng nih”
“siapa”
“elu lah masak gua”
“ooh hehehe”
“ayolah cerita .. jangan2 terjadi sesuatu antara lo ama cowo tadi ya?”
“ihh curigaan aja lu”
“trus kenapa lo senyum2 kayak gitu .. jangan2 kepala lo rusak ya gara2 kena bola?”
“ya nggak lah..”
“trus..”
“ya nggak kenapa2 .. eh ngomong2 tadi gimana sih kejadiannya?”
“loe tadi kena bolanya Arya ..”
“Arya?? Siapa tuh?”
“ya yang tadi jagain elu”
“loe tadi kena bolanya Arya ..”
“Arya?? Siapa tuh?”
“ya yang tadi jagain elu”
“ohh .. jadi namanya Arya?”
“iya .. “
“trus dia yang bawa gue kemari?”
“sebenarnya bukan..”
“trus dia yang bawa gue kemari?”
“sebenarnya bukan..”
“trus siapa??”
“Bastian..”
“siapa lagi itu?”
“kapten tim basket yang ngerjain lo waktu itu”
“what…?? Kok bisa”
“nggak tau .. tiba2 dia respek langsung gendong lo kemari”
“OMG .. kenapa lo biarin?”
“gimana nggak gua biarin.. lo tuh udah pingsan,.. masak gue yang harus gendong lo?”
“idihh … amit2 … bego’2 .. aduh .. lo tau sendiri kan gue tuh nggak suka banget sama dia “
“kan terpaksa “
“ampun deh .. bisa jadi berabe ..”
“emang kenapa?”
“dia kan suka cari gara2 .. pasti kalo ketemu dia bakalan ngolok2 gue lagi “
“aduh udah lah nggak usah di pikirin .. yang penting lo udah siuman kan sekarang..”
“Bastian..”
“siapa lagi itu?”
“kapten tim basket yang ngerjain lo waktu itu”
“what…?? Kok bisa”
“nggak tau .. tiba2 dia respek langsung gendong lo kemari”
“OMG .. kenapa lo biarin?”
“gimana nggak gua biarin.. lo tuh udah pingsan,.. masak gue yang harus gendong lo?”
“idihh … amit2 … bego’2 .. aduh .. lo tau sendiri kan gue tuh nggak suka banget sama dia “
“kan terpaksa “
“ampun deh .. bisa jadi berabe ..”
“emang kenapa?”
“dia kan suka cari gara2 .. pasti kalo ketemu dia bakalan ngolok2 gue lagi “
“aduh udah lah nggak usah di pikirin .. yang penting lo udah siuman kan sekarang..”
“iya sih “
“nah ya udah “
“tapi .. kayaknya gue nggak bisa nemenin lo ama kakak gue”
“emang kenapa”
“gue ada janji..”
“ama siapa?”
“ama cowo tadi..”
“siapa?”
“ih dasar pikun … si si siapa tadi namanya .. Arya..”
“nah ya udah “
“tapi .. kayaknya gue nggak bisa nemenin lo ama kakak gue”
“emang kenapa”
“gue ada janji..”
“ama siapa?”
“ama cowo tadi..”
“siapa?”
“ih dasar pikun … si si siapa tadi namanya .. Arya..”
“hayoo ngapain … hihihi”
“dia ngajak,in makan.. katanya sebagai permintaan maaf”
“cie … cie ..”
“dia ngajak,in makan.. katanya sebagai permintaan maaf”
“cie … cie ..”
“ih apaan sih lo ..”
“ya udah itu pertanda baik”
“pertanda baik gimana … ?”
“ya .. gue nggak ada yang ganggu dan lo pedekate ama kak Arya…”
“ih sialan lo”
“tapi enak kan…”
“ya udah itu pertanda baik”
“pertanda baik gimana … ?”
“ya .. gue nggak ada yang ganggu dan lo pedekate ama kak Arya…”
“ih sialan lo”
“tapi enak kan…”
“biasa aja tuh”
Dan cika nemenin gue sampai waktu pulang sekolah, dan gue sampai lupa kalau ada janji ama Arya. Gue masih bercerita banyak hal dengan Cika tenteng diri gue sebenarnya, nggak gue sangka udah setengah jam gue telat nemuin Arya. Sampai2 dia dating jemput gue di UKS.
“hei .. ternyata lo masih disini”
“ohh ya ampun gue sampek lupa .. ma .. maaf “
Gue segera beresin barang2 gue yang udah di bawain Cika dari kelas, nggak nyangka gue dia mau nungguin gue sampek2 jemput gue ke UKS.
“gue bantu ya “ tawarnya bantu gue
“nggak .. nggak usah repot”
“Nggak papa ..” dia memaksa bantuin gue, gue jadi nggak bisa nolak.
“Nggak papa ..” dia memaksa bantuin gue, gue jadi nggak bisa nolak.
Gue cuman bisa diem ngelihat dia bela belain bawain tas gue. Ya ampun, perhatian banget ama gue.
“emm .. ya udah gue duluan ya Ri .. “
“mau kemana”
“gue khan udah di tunggu kak Rio ..”
“ooh iya … semoga berhasil”
“ok makasih ya .. lo juga”
“gue khan udah di tunggu kak Rio ..”
“ooh iya … semoga berhasil”
“ok makasih ya .. lo juga”
“ihh apaan sih lu .. nggak kyak yg lo kira”
“ tapi kalo beneran kan lebih bagus”
“ah udah ah buruan sana pergi” sambil gue dorong dia keluar UKS.
“ah udah ah buruan sana pergi” sambil gue dorong dia keluar UKS.
Yah itulah sahabat gue meski baru kenal beberapa hari yang lalu tapi dia udah jadi sahabat terbaik gue. Dan itu keberuntungan gue, mangkanya gue restuin dia kalo sampek jadian ama kakak gu. Mungkin kakak gue juga suka ama dia, dia cantik, baek, dan yang terpenting dia sahabat gue.
“ayo ..”
“ooh iya”
Gue segera berjalan bersebelahan dengan Arya, berjalan menyusur lorong2 kelas di sepanjang jalan menuju tempat parkir.
“emb .. ngomong2 kita belum kenalan … gue Arya” sambil mengulurkan tangannya.
“Riri .. “
“Riri .. “
“lo anak baru ya?”
“iya”
“pantesan baru akhir2 ini gue liat lo”
“iya .. baru seminggu ini gue pindah dari Bandung”
“ooh jadi orang bandung?”
“sebenarnya sih bukan, gue asli orang sini Bogor”
“ooh kirain orang bandung”
“bukan … gue aja baru balik kemari setelah sekitar tahun “
“wow .. emang kenapa pindah ke Bandung?”
“yah ngikutin bokap dinas ..”
“jadi lo sekeluarga sering pindah2 dong”
“iya .. tapi cuman gue, kakak ama bokap”
“iya”
“pantesan baru akhir2 ini gue liat lo”
“iya .. baru seminggu ini gue pindah dari Bandung”
“ooh jadi orang bandung?”
“sebenarnya sih bukan, gue asli orang sini Bogor”
“ooh kirain orang bandung”
“bukan … gue aja baru balik kemari setelah sekitar tahun “
“wow .. emang kenapa pindah ke Bandung?”
“yah ngikutin bokap dinas ..”
“jadi lo sekeluarga sering pindah2 dong”
“iya .. tapi cuman gue, kakak ama bokap”
“ trus nyokap kamu nggak ikut?”
“nggak dia di Banten”
“kenapa”
“dia .. dia udah meninggal”
“ma .. ma .. maaf >> gue nggak bermaksud “
“nggak papa kok “
“nggak dia di Banten”
“kenapa”
“dia .. dia udah meninggal”
“ma .. ma .. maaf >> gue nggak bermaksud “
“nggak papa kok “
Sesampainya di tempat parkir, dia memberikan salah satu helm di sepedanya buat gue. Anehnya kenapa ada 2?? Buaknnya dia berangkatnya sendirian ya.
“ngomong2 kenapa ada 2 helm kamu”
“ooh itu … tadi gue pinjemin temen gue”
“ooh itu … tadi gue pinjemin temen gue”
Ya ampun, sampek di pinjemin segala, busyet … ngapa repot2 ya.
“udah ayo naik ..”
“oohh I .. iya”
“oohh I .. iya”
Gue segera naik motor ninja merah miliknya, gue nggak berani pegangan ama dia, takut ada yang marah.
, gue jadi agak il-feel gara2 di liatin ama senior cewe’. Gue takut ada yang marah. Gue mau Tanya tapi takut dia marah, tapi kalo nggak Tanya gue malah takut lebih di marahin ama pacarnya. Waduh repot ini, gue coba Tanya aja deh daripada berabe.
“emb .. ngomong2 lo nggak takut di mrahi ama pacarmu ya ngajakin gue makan”
“pacar ? siapa?”
“emang kamu nggak punya pacar?”
“nggak tuh ngapain juga takut”
“tapi tadi waktu kita keluar, senior2 cewe’ pada ngeliatin, gue pikir salah satunya pacar lo”
“nggak ada .. tapi kalo mantan iya”
“yang mana … yang mana?” gue bertanya sambil tersenyum
“kenapa lo mau tau?”
“kan Cuma mau tau!”
“nggak usah deh gue males bahasnya”
“ma .. maaf” gue jadi serba salah rasanya
“pacar ? siapa?”
“emang kamu nggak punya pacar?”
“nggak tuh ngapain juga takut”
“tapi tadi waktu kita keluar, senior2 cewe’ pada ngeliatin, gue pikir salah satunya pacar lo”
“nggak ada .. tapi kalo mantan iya”
“yang mana … yang mana?” gue bertanya sambil tersenyum
“kenapa lo mau tau?”
“kan Cuma mau tau!”
“nggak usah deh gue males bahasnya”
“ma .. maaf” gue jadi serba salah rasanya
“nggak papa … tapi apa lo juga nggak ad yang marah?”
“ah nggak .. “
“jadi lo juga nggak punya pacar?”
“enggak ..”
“jadi gue punya kesempatan dong”
“maksudnya?”
“ohh ngg .. nggak .. tapi gue sempet liat tadi pagi lo dianter ama cowo ya?”
“ooh itu kakak gue .. ganteng ya.. haha?”
“hehehe iya”
Entah perasaanku saja atau memang benar, tadi dia sempat tersenyum saat gue ngomong kalo gue nggak punya cowo’. Ah au ah gelap … hahaha. Tapi tiba2 dia mempercepat laju sepedanya, seketika gue kaget dan memeluk punggungnya. Hah .. apa2an gue … gue segera melepas perlahan tangan gue.
“ah nggak .. “
“jadi lo juga nggak punya pacar?”
“enggak ..”
“jadi gue punya kesempatan dong”
“maksudnya?”
“ohh ngg .. nggak .. tapi gue sempet liat tadi pagi lo dianter ama cowo ya?”
“ooh itu kakak gue .. ganteng ya.. haha?”
“hehehe iya”
Entah perasaanku saja atau memang benar, tadi dia sempat tersenyum saat gue ngomong kalo gue nggak punya cowo’. Ah au ah gelap … hahaha. Tapi tiba2 dia mempercepat laju sepedanya, seketika gue kaget dan memeluk punggungnya. Hah .. apa2an gue … gue segera melepas perlahan tangan gue.
Tapi tiba2 tangan Arya menarik lagi tangan gue supaya gue tetep berpegangan ama dia.
“kenapa di lepas? Lo nggak takut jatoh?”
“ebm ..” gue nggak bisa berkata apa-apa
“ebm ..” gue nggak bisa berkata apa-apa
“udah pegangan aja nggak papa”
“ta .. tapi”
“tapi apa”
“ebmm.. bisa nggak lo pelanin sepeda lo?”
“a .. apa? Gue nggak denger”
“nggak” gue jadi nurutin dia..
“ta .. tapi”
“tapi apa”
“ebmm.. bisa nggak lo pelanin sepeda lo?”
“a .. apa? Gue nggak denger”
“nggak” gue jadi nurutin dia..
Ya sepanjang jalan, gue masih pegangan erat banget ama Arya, gue takut jatoh, gimana nggak takut, kecepatannya aja 80 .. gila nih anak pembalap apa apaan sih, bikin jantung orang deg .. deg ..an aja.
“udah sampek ..” katanya
“ooh disini?”
“iya..”
“gue kayak nggak asing ama restaurant ini”
“emang lo pernah ksini juga”
“kayaknya sih pernah tapi itu dullu”
“ooh ya udah ayo masuk yuk … lo boleh pesen apa aja yang lo mau”
“oh ya”
“hmm ..” dia hanya menganggukkan kepalanya.
“iya..”
“gue kayak nggak asing ama restaurant ini”
“emang lo pernah ksini juga”
“kayaknya sih pernah tapi itu dullu”
“ooh ya udah ayo masuk yuk … lo boleh pesen apa aja yang lo mau”
“oh ya”
“hmm ..” dia hanya menganggukkan kepalanya.
Kami berdua masuk ke restaurant susi di daerah sekitar alun2 kota. Kok ada ya cowo’ sebaik ini di antara anak basket yang sok sok itu. Apalagi kaptennya.. siapa itu namanya .. Ba .. Bastian … iya Bastian.
Hih gue masih dendam banget ama dia. Ah udah lah yang penting kan sekarang gue sama Arya, udah baik, ganteng lagi. Hehehe ..
“makan yang banyak ya ..” tersenyum ama gua .. aduh .. senyumanya ngga kuat …
“iya dong .. hahaha”
“lo suka susi ya?”
“banget .. dulu gua sering di ajak bokap nyokap ke sini waktu nyokap masih hidup … hiks .. hiks .. hiks ..” nggak kerasa air mata gur mengalir, gue kangen banget ama nyokap.
“banget .. dulu gua sering di ajak bokap nyokap ke sini waktu nyokap masih hidup … hiks .. hiks .. hiks ..” nggak kerasa air mata gur mengalir, gue kangen banget ama nyokap.
“lo .. lo nangis ya?”
“ma ..maaf gue … gue .. gue nggak bisa berhenti nangis”
“ma ..maaf gue … gue .. gue nggak bisa berhenti nangis”
Gue nggak nyangka Arya bakalan meluk gue, dia mau ngasih bahunya buat gue padahal kita baru kenal. Dia .. apa dia ngerti perasaan gue.
“lo .. bole nangis selama yang lo mau ..”
“gue .. gue .. minta maaf hiks .. hiks”
“nggak .. gue bakaln selalu ada buat lo”
“nggak .. gue bakaln selalu ada buat lo”
Saat ini gue nggak bisa berhentiin air mata gue, gue udah nggak perduliin pelanggan lain yang dating, yang gue lakuin sekarang pun gue nggak sadar. Yang gue bayangin sekarang Arya adalah nyokap gue. Gue peluk dia seerat mungkin, gue nangis di pelukkanyya dia sampai2 baju seragamnya basah. Tersadar setelah itu gue lepasin pelukkan gue, dan minta maaf.
“ma .. maaf .. baju lo basah”
“lagi2 minta maaf .. katanya nggak boleh selalu bilang maaf “ sambil tersenyum, gue jadi inget kata2 gue wktu di UKS tadi siang.
“lagi2 minta maaf .. katanya nggak boleh selalu bilang maaf “ sambil tersenyum, gue jadi inget kata2 gue wktu di UKS tadi siang.
“hehe ,.. bisa aja lu”
“jadi .. sekarang ap lu udah baikkan?” tiba2 dia mengusap air mata di pipiku. Aku sempet kaget, tapi gue diem aja karna gue tau dia ngertiin gue.
“jadi .. sekarang ap lu udah baikkan?” tiba2 dia mengusap air mata di pipiku. Aku sempet kaget, tapi gue diem aja karna gue tau dia ngertiin gue.
“baik banget … makasih ya” gue tersenyum
“nah gitu dong .. karna gue paling nggak bisa liyat cewe’ nangis di hadapan gue”
Belum gue sempet bilang maaf ama dia, dia udah menutup mulut gue dan bilang. “ udah .. gue tau apa yang maun lo bilang .. maaf kan? .. “ dia tersenyum dan gue juga.
“ihh siapa juga yang mau bilang gitu, nih makan aja susinya” canda gue sambil menyuapkan susi ke mulutnya
“haha …”
Kami bercanda dan ber bincang bincang sampai tak terasa sudah sore, akhirnya Arya mengajakku untuk pulang.
“udah sore nih .. pulang yuk …”
“eh iya ,.. ayo”
Tiba tiba ponsel gue bunyi, ternyata itu dari kakak gue, gue berpamitan ke kamar mandi ke Arya, dan gue angkat telpon dari kakak gue.
“halo .. ada ap kak?”
“lo dimana Ri ..”
“di restaurant kak ..”
“ama siapa”
“temen ,.. nih udah mau pulang”
“oohh ya udah kirain lo kemana ..”
“ iiya iya kakak ku tercinta”
“lo dimana Ri ..”
“di restaurant kak ..”
“ama siapa”
“temen ,.. nih udah mau pulang”
“oohh ya udah kirain lo kemana ..”
“ iiya iya kakak ku tercinta”
“ya udah cepet pulang ya ..”
“ok bos ..”
“ok bos ..”
Setelah gue nutup telpon, gue segera kembali nemuin Arya di meja makan.
“udah yuk ayo pulang”
“iya .. tadi siapa ?”
“oh kakak gue”
“kenapa”
“cuman nanya doang gue dimana”
“oh ,.. ya udah yuk pulang”
“ok .. “
“iya .. tadi siapa ?”
“oh kakak gue”
“kenapa”
“cuman nanya doang gue dimana”
“oh ,.. ya udah yuk pulang”
“ok .. “
Nggak pernah gue merasa selega ini seperti bersama kakakku sendiri, Arya udah kayak kakak kedua gue setelah kak Rio. Mungkin bener kata Cika, ini pertanda baik buat Arya. Huh .. lega banget rasanya.
Kenbali gue berboncengan dengan Arya, di perjalanan pun kami masih ngobrol, Arya emang cowo yang seru banget. Sesampainyya di depan rumah gue,.
“nggak mampir dulu”
“makasih tapi gue habis ini ada acara, “
“makasih tapi gue habis ini ada acara, “
“ooh ya udah makasih traktiranya ya”
“ok sama2 .. lain kali kita jalan2 bareng ya”
“ok bos ..” sambil gue menepuk bahunya, tapi dia hanya tersenyum.
“ok sama2 .. lain kali kita jalan2 bareng ya”
“ok bos ..” sambil gue menepuk bahunya, tapi dia hanya tersenyum.
“gue pulang dulu ya .. “ dia melambaikan tangannya
“iya” gue balas lambaian tangannya
malam harinya gue makan malam hanya dengan kak Rio, karna bokap lagi lembur di kantor. Dan inilah keseharian dalam hidupku, hanya kak Rio yang selalu ada untukku. Karna itu sejak kehadiran Arya dalam hari2ku membuatku merasa tidak kesepian lagi, di tambah gue dapet sahabat sebaik cika. Terima kasih tuhan kau telah berikan orang2 sebaik mereka kepada ku ^^.
“kak tadi gimana?”
“gimana apanya?”
“Cika kak .. janagn belagak bego’ ah”
“ihh apa-apaan sih lo”
“nggak papa kak ,.. dia cantik baik lagi ,.. umur juga nggak beda jauh kan ,.. cuman 2 tahun, kakak juga kan nggak punya cewe kan” rayuku pada kak Rio.
“gimana apanya?”
“Cika kak .. janagn belagak bego’ ah”
“ihh apa-apaan sih lo”
“nggak papa kak ,.. dia cantik baik lagi ,.. umur juga nggak beda jauh kan ,.. cuman 2 tahun, kakak juga kan nggak punya cewe kan” rayuku pada kak Rio.
“iya sih .. emang nggak papa dia buat kakak?”
“ya nggak papa ,.. toh dia juga suka ama kakak “
“beneran?”
“bantuin kakak yuk”
“bantuin apa”
“ya bantuin dapetin Cika”
“nggak usah susah2 kak ,.. besok di tembak loh juga bakalan di terima ama dia”
“suer lo?”
“suer tak kewer2 deh pokoknya”
“oke minggu depan gue bakal tembak dia”
“ih kelamaan .. kenapa harus nunggu minggu depan coba”?
“ah udah jangan cerewet,.. makan aja tuh “ sambil mengusap rambutku
“ya nggak papa ,.. toh dia juga suka ama kakak “
“beneran?”
“bantuin kakak yuk”
“bantuin apa”
“ya bantuin dapetin Cika”
“nggak usah susah2 kak ,.. besok di tembak loh juga bakalan di terima ama dia”
“suer lo?”
“suer tak kewer2 deh pokoknya”
“oke minggu depan gue bakal tembak dia”
“ih kelamaan .. kenapa harus nunggu minggu depan coba”?
“ah udah jangan cerewet,.. makan aja tuh “ sambil mengusap rambutku
“iya iya kak”
Selesai makan gue langsung ke kamar, dan inget2 kenanagn gue tadi ama Arya,.. seneng banget rasanya kalo inget kejadian itu. Hhehe .. udah ah gue mau tidur .. dan besok moga aja ketemu Arya lagi. ^^
Bagian KEDUA
Seperti biasanya pagi ini gue sarapan ama kak Rio dan bokap gue. Di meja makan rasanya hening banget, nggak ada yang memulai pembicaraan. Nggak kayak biasanya, apa kakak dan bokap bertengkar lagi. Dan kenapa semenjak pindah kemari mereka berdua jadi tak akur lagi, keduanya saat gue Tanya apa permasalahannya, mereka sama2 tak mau bercerita, gue jadi heran. Nggak biasa seperti iini mereka. Mungkin gue emang nggak boleh tau, tapi kenapa hanya gue yang nggak boleh tau. Lamunanku buyar saat tiba-tiba seseorang menekan bel rumahku, dan gue berjalan menuju pintu depan. Dan gue terkejut banget saat yang gue lihat di depan pintu adala Arya, ngapain coba’ dia kemari.
“hey ,.. nagpain lo kemari?”
“gue mau jemput lo”
“apah kenaapa nggak bilang “
“gue lupa minta no ponsel lo” tersenyum seperti tak punya dosa.
“gue mau jemput lo”
“apah kenaapa nggak bilang “
“gue lupa minta no ponsel lo” tersenyum seperti tak punya dosa.
“aduh .. ya udah deh, masuk yuk .. udah sarapan belom?”
“nggak deh .. gue di luar aja ,.. gue juga udah sarapan kok”
“ya udah tunggu bentar ya .. gue ambil tas dulu”
gue masuk ke dalam rumah dan mengambil tass gue di dalam kamarku di lantai 2. Kemudian turun dan bilang ke kak Rio kalo gue nggak jadi berangkat bareng.
“nggak deh .. gue di luar aja ,.. gue juga udah sarapan kok”
“ya udah tunggu bentar ya .. gue ambil tas dulu”
gue masuk ke dalam rumah dan mengambil tass gue di dalam kamarku di lantai 2. Kemudian turun dan bilang ke kak Rio kalo gue nggak jadi berangkat bareng.
“kak gue nggak jadi nebeng ..”
“kenapa”
“gue udah di jemput temen”
“yaudah .. emang sarapannya udah selesai?”
“udah kok kak .. berangkat dulu ya”
“iya ..”
“ oh ya papa mana?”
“nggak tau tuh .. “
“yaudah ,.. gue berangkat kak”
“iya hati2 y”
“kenapa”
“gue udah di jemput temen”
“yaudah .. emang sarapannya udah selesai?”
“udah kok kak .. berangkat dulu ya”
“iya ..”
“ oh ya papa mana?”
“nggak tau tuh .. “
“yaudah ,.. gue berangkat kak”
“iya hati2 y”
“ok “
Gue segera keluar dan nemuin Arya, betapa terkejutnya gue saat lihat bokap gue ama Arya lagi ngobrol sambil ketawa. Nggak mungkin .. ini nggak mungkin .. bokap nggak pernah suka kalo ada cowo ke rumah. Gue takut ntar gue bakalan di marahin ama bokap. Tapi kenapa mereka kelihatannya lagi asik banget ya ngobrolnya. Ah udah ah gue selamatin aja tuh si Arya daripada kena marah bokap.
“papa .. kenapa papa di sini?”
“kok gitu sih bilangnya, ini temen kamu kan? Ya lagi ngobrol “
“udah ya pa kita harus berangkat, udah siang” gue tarik tuh tangan Arya
“kok gitu sih bilangnya, ini temen kamu kan? Ya lagi ngobrol “
“udah ya pa kita harus berangkat, udah siang” gue tarik tuh tangan Arya
“permisi om” sapanya pada bokap gue
Gue segera naik dan memakai helm yang di sodorkan Arya ke gue. Mungkin Arya bertanya-tanya kenapa gue narik tangannya saat lagi ngobrol ama bokap. Tapi itu bakalan gue jelasin nanti di sekolah aja.
Sesampainya di sekolah Arya nggak ngomong apa2, apa dia marah? Tapi gue takut mau ngomong ama dia.
“emb ,.. soal yang tadi sebenarnya ..”
belum gue selesai ngmong Arya udah ngomong duluan.
“gue udah tau kok,.. pasti lo heran kan”
“iya .. banget” gue anggukkan kepala gue
“udah lah nggak usah di pikirin”
“emang bokap gue ngomong apa aja?”
“tentang …. “ wajah Arya di deketin ke gue. Sekatika gue juga menjauhin wajah gue dari dia.
“tentang …. “ wajah Arya di deketin ke gue. Sekatika gue juga menjauhin wajah gue dari dia.
“ra … ra .. rahasia” katanya sambil mencolek wajah gue dan berlari ke kelasnya
“ih nyebelin” gue teriak
Gue juga berjalan ke kelas gue,seperti biasanya. Gue nggak nyangka, kelas yang gue lewatin selama ini salah satunya adalah kelas si sok Bastian, hih gue coba nggak ngelihat ke kelasnya tapi ternyata dia ada di depan pintu. Nggak biasanya dia ada di situ, gue tau karna gue nggak pernah liat dia saat gue lewat disana.
“eh cewe gendut ..” panggilnya ama orang yang nggak gue tau siapa
“eh elo … “ ulangnya lagi
“eh elo … “ ulangnya lagi
Gue menoleh,.. dan ternyata orang yang dia panggil adalah gue. Sialan tuh cowo. Awas lu ya.
“iya gue panggil elo cewe gendut” panggilnya lagi. Wah cari mati nih cowo.
“maksud lo apa heh” Tanya gue sadis
“wah jutek nih… bukannya bilang makasih kek”
“buat apa gue bilang makasih ama orang yang sok kayak lo”
“buat apa gue bilang makasih ama orang yang sok kayak lo”
“lo pikir siapa yang gendong elo yang super beratnya ke UKS “
“gue nggak tau dan nggak mau tau”
“hih dasar lo ..”
“apa ..?” gue nantang dia
“lo emang cewe aneh ..”
“hih dasar lo ..”
“apa ..?” gue nantang dia
“lo emang cewe aneh ..”
“iya emang gue cewe aneh, dan lo cowo anehnya”
“gue heran ama lo .. ternyata ada cewe macam lo masih hidup”
“ada ,.. dan inilah gue “
“ada ,.. dan inilah gue “
“hih …’
“udah ngomongnya? Gue nggak punya waktu buat ngladenin cowo macam lo.. ok “
Gue tinggalin tuh anak yang kelihatannya tersinggung ama kata2 gue barusan, sebenarnya itu bukan gaya gue banget tapi .. gue nggak punya cara lain buat ngadepin tuh anak sok dan belagu. Yah tapi .. gue sedikit lega habis mempermaluin dia di depan kelasnya. Huh hari ini gue mau nraktir Cika ah, atas keberhasilan gue pagi ini. Hahaha. Sesampainya di kelas.
“apah? Lo berhasil mempermalukan Bastian?”
“iya ..” dengan nada bangga
“iya ..” dengan nada bangga
“wah hebat lu.. sampe2 dia nggak bisa ngomong apa2?”
“iya ,.. gue lega banget pagi ini “
“iya ,.. gue lega banget pagi ini “
“hebat lu .. “
“iyalah riri gitu … haha”
“oh ya ngomong2 kemaren lu ama Arya ngapain aja?”
“ih apaan sih ,… ya nggak ngpa2in lah”
“ah pasti bo’ong”
“beneran deh suer”
“dan tadi pagi gue juga di jemput ama dia”
“katanya bokap lo nggak suka ada cowo ke rumah lo”
“nah itu anehnya ,.. malah Arya sempet ngobrol ama bokap gue ,.. pakek ketawa lagi”
“wah kayaknya lu di restuin deh”
“ah apaan sih ,.. ya nggak lah kita berduakan cuman temen..”
“iya awalnya ,.. lihat aja lama kelamaannya nanti”
“ini do’a apa ejekan lu”
“hahaha bisa dibilang do’a sih ,..”
“bisa aja luh”
“oh ya ntar kita ke kantin ,.. kita borong semua yang lo mau hahaha”
“beberan nih?”
“iya ,.. “
“ntar kita bawa ke pohon yuk >>”
“ok deh”
“oh ya ngomong2 kemaren lu ama Arya ngapain aja?”
“ih apaan sih ,… ya nggak ngpa2in lah”
“ah pasti bo’ong”
“beneran deh suer”
“dan tadi pagi gue juga di jemput ama dia”
“katanya bokap lo nggak suka ada cowo ke rumah lo”
“nah itu anehnya ,.. malah Arya sempet ngobrol ama bokap gue ,.. pakek ketawa lagi”
“wah kayaknya lu di restuin deh”
“ah apaan sih ,.. ya nggak lah kita berduakan cuman temen..”
“iya awalnya ,.. lihat aja lama kelamaannya nanti”
“ini do’a apa ejekan lu”
“hahaha bisa dibilang do’a sih ,..”
“bisa aja luh”
“oh ya ntar kita ke kantin ,.. kita borong semua yang lo mau hahaha”
“beberan nih?”
“iya ,.. “
“ntar kita bawa ke pohon yuk >>”
“ok deh”
Akhirnya jam istirahat berbunyi, kami berdua melaksanakan rencana kami semula. Dan membawa makanan2 kami ke pohon, seperti biasanya anak2 basket sedang latihan, dan di sana ada Arya, senang rasanyamelihatnya lagi. Saat kami saling melihat, dia tersenyum padaku, dan kebetulan Bastian melihat kami, segera gue memalingkan pandangan gue ke arah Cika. Males banget gue rasanya lihat wajah tuh anak. Setelah latihan, Arya menuju kearah gue ama Cika.
“hei “
“hei juga”
“wah banyak makanan nih”
“lo mau? Ambil aja “
“emb kayaknya gue mau ke perpus dulu ngambil buku tugas gue” kata Cika mencoba meninggalkanku berdua bersama Arya
“hei juga”
“wah banyak makanan nih”
“lo mau? Ambil aja “
“emb kayaknya gue mau ke perpus dulu ngambil buku tugas gue” kata Cika mencoba meninggalkanku berdua bersama Arya
“gue ikut” pintaku
“gue sebentar kok”
“cepet balik ya”
“iya ..”
“cepet balik ya”
“iya ..”
“wah pengertian banget dia” kata Arya
“maksdnya?”
“nggak kok”
“ini boleh di makan?”
“boleh banget”
“nggak kok”
“ini boleh di makan?”
“boleh banget”
“maksih ya”
Gue hanya tersenyum ngelihat Arya memakannya, entahlah gue seneng ngelihat Arya lagi olahraga. Keren menurut gue. Haha apa2an gue ini,. Tapi apa cuman perasaan gue aja ya kalo Bastian dari tadi ngeliatin gue ama Arya. Wah sirik kayaknya tuh orang, auah biarin aja. Yang penting disini ada Arya.
“kenapa?”
“nggak ,.. tapi kayaknya dari tadi kita di lihatin ama Bastian deh”
“ah nggak usah di ladenin .. kita makan aja yuk “
“ iya “
“nggak ,.. tapi kayaknya dari tadi kita di lihatin ama Bastian deh”
“ah nggak usah di ladenin .. kita makan aja yuk “
“ iya “
Gue ama Arya nglanjutin makan dan ngobrol, makin hari gue makin deket aja ama Arya. Gue seneng banget rasanya, gue rasanya punya kakak kedua yang ngertiin gue banget. Gue jadi sayang banget ama dia.
Sepulang sekolah seperti biasanya gue ama Arya, tapi kali ini gue mau liat Arya latihan basket dulu. Kali ini, gue mau beliin dia minuman dulu di minimarket di seberang sekolah. Gue belinya sendirian gara2 Cika udah pulang duluan ama Kak Rio. Karna mereka lagi pedekate, jadinya gue biarin mereka berdua.
Nah ini dia minumannya udah dapet, gue harus segera balik nih. tapi jalannya rame nih, gimana mau nyebrang nih. Nungguin jalanan sepi jadi nunggunya lama banget, nah ini kesempatan gue nyebrang mumpung jalanan kali ini lagi sepi.
“tiiiiinnnnnnnnn”
“aaaaaaaaaaahhh” gue kaget dari arah barat datang mobil dan gue nggak tau harus ngapain lagi. Kayaknya ini udah terlambat buat balik, huft alamat masuk rumah sakit nih. Gue cuman nutup mata rapat2 karna gue nggak berani liat apa2.
“awaaaaaasssssssss” suara teriakan siapa itu, sepertinya cowo’.
“arkhhh,…’ ada yang narik gue. Gue coba buka mata pelan2 dan ….
Hah Bastian?? Gue nggak salah liat nih?? Seorang Bastian nylametin gue??
Kami berdua tersungkur di atas tanah pinggir jalan, ya ampun badan Bastian luka2 nih. Gue ,.. gue … gue harus ngapain. Gue coba cari taksi, dan membawa Bastian ke rumah sakit. Ya ampun apa ini beneran Bastian, dia nggak sadarkan diri gue jadi panic. Apalagi gue nggak bawa ponsel, trus ntar kalo Arya nyariin gimana. Aduh gue bingung nih. Bastian kapan sadarnya juga, aduh keadaan drurat nih.
Akhirnya gue sampek di Rumah sakit. Dokter segera membawanya ke dalam ruangan dan gue nungguin di luar. Satu jam kemudian akhirnya dokter keluar dari ruangan itu.
“gimana dok keadaanya?”
“dia sudah siuman, sudah boleh di jenguk”
“makasih dok”
“dia sudah siuman, sudah boleh di jenguk”
“makasih dok”
Gue segera masuk kedalam ruangan tempat Bastian di rawat, gue ngrasa kawatir banget ama dia. Kalo dia mati gue harus gimana.
“dasar bodoh” gue nggak terasa tiba2 air mata gue menetes.
“lo .. ?? lo nangis?”
“dasar bodoh … kalo lo mati gimana?”
Dia malah tersenyum ngeliat kelakuan gue tadi, apa dia bakalan ngejek gue lagi.
“lo ,.. nggak usah ngawatirin gue, lo balik aja”
“lo bego ya … mana bisa gue ninggalin lo”
“lo ,.. ngawatirin gue ya???”
“iya bego …” gue nepuk bahunya sambil nangis.
“iya bego …” gue nepuk bahunya sambil nangis.
Tiba-tiba dia memelukku, gue … gue nggak bisa nolak. Kenapa pelukkannya terasa hangat?? Gue nggak pernah ngrasain rasa ini. Ini berbeda dengan pelukkan Arya, sangat berbeda. Yang ini lebih hangat, bahkan sangat hangat, perasaan apa ini.
“makasih ..” ucapnya berbisik
“gue yang harus bilang makasih, dan … gue minta maaf buat kejadian tadi pagi”
Perlahan gue lepasin pelukkan Bastian, gue .. gue .. arkhhh …. Perasaan apa ini aneh banget.
“lo tau ,.. sebenarnya gue juga yang salah, dulu gue pernah bikin lo malu di depan umum dan mungkin gara2 itu lo jadi benci banget ama gue”
“dan emang dugaan lo bener”
“maaf”
“dan gue pengen tau apa alasan lo ngerjain gue”
“gue … gue “
“dan emang dugaan lo bener”
“maaf”
“dan gue pengen tau apa alasan lo ngerjain gue”
“gue … gue “
“apa …”
“gue cuman mau deket ama lo”
“apah?”
“iya gue … ahhh lupain aja “
“iya gue … ahhh lupain aja “
“dasar” gue tepuk kakinya
“awww…”
“sory sory ..”
Suasana sempet hening sesaat, dan kami berdua saling diam satu sama lain. Dan gue masih berpikir gimana Arya nanti apa dia nggak khawatir. Gue udah menghilang hampir 5 jam. Gue juga nggak bisa hubungin Arya, ponsel gue ketinggalan di tas. Gimana kalo gue pinjem ponselnya bastian. Amb ,.. nggak papa lah dari pada nanti Arya khawatir.
“lo nggak ad yang nyariin apa?” tanyanya ama gue
“emb … sebenarnya gue nggak bawa ponsel.”
“lo takut Arya khawatir ya?”
“emb .. gue ..”
“emb .. gue ..”
“gue boleh nanya nggak “
“hah? Nanya? .. ooh apah?”
“hah? Nanya? .. ooh apah?”
“sebenarnya apa hubungan lo ama Arya?”
“ gue ama Arya cuman temen, emang kenapa?”
“ooh ,.. nggak “
“ gue ama Arya cuman temen, emang kenapa?”
“ooh ,.. nggak “
“lo hubungin aja Arya pakek ponsel gue”
“ma … makasih …”
“ iya .. ada di tas gue”
gue nggak tau kenapa saat Bastian nanya ama gue tentang hubunga n gue ama Arya, kenapa gue harus gugup ya. Aneh banget. Ah udah lah gue harus segera hubungin Arya. Setelah gue hubungin Arya, gue bakalan di jemput ama dia. Dan gue harus ninggalin Bastian, tapi apa dia bakalan baik2 saja ya?
“ iya .. ada di tas gue”
gue nggak tau kenapa saat Bastian nanya ama gue tentang hubunga n gue ama Arya, kenapa gue harus gugup ya. Aneh banget. Ah udah lah gue harus segera hubungin Arya. Setelah gue hubungin Arya, gue bakalan di jemput ama dia. Dan gue harus ninggalin Bastian, tapi apa dia bakalan baik2 saja ya?
“Riri …” panggil Arya sambil membuka pintu ruangan sambil tergesa-gesa.
“iya ..”
Arya terdiam sesaat ngelihat gue ama bastian di dalam ruangan.
‘”lo nggak papa kan?”
“nggak papa kok .. tapi”
“nggak papa kok .. tapi”
“makasi Bas, lo udah nolongin Riri ,..gue berhutang ama lo”
“iya .. “
“ya udah kita pulang yuk, bokap lo pasti udah nyariin lo” ajak Arya ke gue
“tapi.. dia??”
“tapi.. dia??”
“lo gimana Bas?”
“gue .. .. hah udahlah kalian berdua pulang aja .. besok gua juga udah baikan”
“Yang bener?” Tanya gue
“gue .. .. hah udahlah kalian berdua pulang aja .. besok gua juga udah baikan”
“Yang bener?” Tanya gue
“ udah lah pulang lah gue nggak papa kok”
“ya udah kita pulang dulu ya” kata Arya
“ya udah kita pulang dulu ya” kata Arya
Akhirnya gue ama Arya pulang, di jalan gue coba jelasin semuanya ama Arya tentang semua yang terjadi siang tadi. Dan ternyata Arya hanya tersenyum dan berkata
“gue ngerti kok”
“makasih ya”
Sesampainya di depan rumah gue tiba-tiba Arya menatapku dengan tatapan berbeda, dia memegang tanganku dengan lembutnya.
“Ri .. gue mau jujur sesuatu ama lo”
“mau jujur apa? Bukannya lo selalu jujr ama gue?” gue balas dengan senyuman
“gue .. gue sebenarnya … sebenarnya.. sayang banget sama lo .. sejak gue liat lo di pohon setiap hari ,.. gue udah mulai tertarik ama lo… lo mau nggak jadi pacar gue”
“ lo .. sayang sama gue?”
“ lo .. sayang sama gue?”
“iya sayang banget sama lo Ri ..? jadi gimana?”
Gue sempet kaget denger pernyataan Arya. Gue harus gimana .. kenapa ini .. sebenarnaya gue juga sayang ama dia tapi kenapa mulut gue terasa berat buat ngomong “gue juga sayang ama lo” kenpa ini.
Gue .. gue .. gue bingung …
“Ri .. lo kenapa?”
“hah .. gue nggak kenapa kenapa kok ..”
“jadi gimana?”
“sebenarnya gue .. gue .. juga sayang ama lo “ apa yang gue lakukan ini bener ya?
“jadi gimana?”
“sebenarnya gue .. gue .. juga sayang ama lo “ apa yang gue lakukan ini bener ya?
‘jadi lo mau jadi pacar gue?”
“iya … iya gue mau” jawabku tersenyum
“iya … iya gue mau” jawabku tersenyum
“heih makasih Ri ,..” Arya meluk gue, gue pengen bales meluk dia tapi kenapa rasanya berat. Perasaan ini berbeda dari awal saat dia meluk gue. Ada apa dengan gue.
Tiba- tiba dia nyium kening gue, dan gue cuman memejamkan mata. Gue ini kenapa. Aneh banget.
“ya udah kamu tidur ya.. moga mimpi indah “
“iya kamu juga ya “ ku balas senyumannya
Segera dia menghidupkan motornya dan menarik gas untuk pulang, gue cuman ngelihat dia yang semakin menjauh. Dan gue masih kepikiran bastian tadi. Apa dia baik-baik saja.
Tapi gue harus akuin kalo gue juga sayang ama Arya .. Mungkin perasaan bimbang gue tadi gara-gara gue khawatir ama Bastian, nggak lebih. Dan sekarang gue udah punya Arya yang ngertiin gue dan gue bakalan nyoba buat Arya nggak kecewa ama gue. Tapi besok kalo Bastian masih belum masuk sekolah, gue bakalan njenguk dia.
“tith tith tiht itith ..” ponsel gue bunyi. Ternyasa pesan dari Arya,
“ putri manis ku .. udah bobok apa belom??
Gue cuman mau bilang ama kamu kalo gue sayang banget ama kamu ..
ARYA LOVE RIRI FOREVER <3”
Gue seneng Arya perhatian ama gue,.. nggak lama gue balas pesannya.
“iya .. Riri juga sayang ama Arya..
Moga-moga kita bisa sehati terus ya “
“iya … met malem ,.. “
Akhirnya gue tidur .. tapi malam ini gue masih kepikiran Bastian … apa gue coba kirim pesan ama dia.
Kirim nggak ya ?? bismillah … gue coba aja.
“Bas, gue Riri .. gimana keadaan lo?
Udah baikan belom … kalo ,lo besok belom masuk sekolah,
Gue kesana ya … “
Tak lama balasan dari Bastian masuk ke ponsel gue.
“gue udah baikan kok, palingan gue besok udah masuk ..
Sekarang gue udah di rumah, jadi besok lo nggak usah datang ke rumah sakit,
Makasih atas perhatian lo.”
“iya, tapi itu karena gue berhutang nyawa ama lo.,
Jadi gue nggak bisa se enaknya ninggalain lo,.’
Andai aja lo nggak ada, mungkin gue yang lagi ada di posisi lo,”
“iya makasih .. itu juga kebetulan aja gue lagi liat lo ..
Gue juga nggak bisa gitu aja liat lo di tabrak mobil”
“ya udah lo istirahat aja, biar cepet sembuh ya”
“itu pasti ,.. karna gue nggak selamah yang lo kira J”
“iya iya .. gua tau … jagoan :)”
Bagian KETIGA
Gue nggak nyangka Riri bakalan semarah itu ama gue. Gue juga sebenarnya nggak sengaja nglakuin itu, waktu itu gue emang nggak sengaja jatuhin minuman gue ke kepalanya. Di kantin emang lagi banyak banget orang. Gue mau minta maaf tapi dianya udah nyolot duluan. Gue juga gengsi ama temen gue kalo gue sampek kalah ama tuh anak cewe. Jadi terpaksa gue nglawan dia. Hih bodohnya gue waktu itu, padahal gue mau deketin dia. Gue suka gaya dia yang cuek, dan sok nggak peduli … bikin gue jadi penasaran banget ama dia. Selain itu dia juga cakep, rambutnya yang panjang lurus dan hitam, kulit putih, wah pokoknya tipe gue banget deh. Tapi gue emang bego, kesan pertama malah ancur banget .
Saat gue liat dia marah-marah gue nggak bisa nglakuin apa-apa.
Setelah kejadian itu, Gue sering banget ngliat Riri di pohon sebelah lapangan basket, gue juga sering ngliatin dia tanpa sepengetahuannya dia. Gue suka kalo dia lagi ama Cika, dia bisa ketawa bebas … itu buat gue jadi lega.
Tapi gue cuman bisa ngliat dia dari jauh aja,
Tiba-tiba Riri jatuh kena bola basket yang nimpuk kepalanya, gue liat bola itu dari Arya. Nggak kelamaan, .. gue lari gendong Riri ke UKS. Tapi kalo dia ngliat gue pasti tambah marah aja tuh anak, .. mendingan gue balik aja. Lagipula disini udah ada Arya ama temennya ,.. Cika. Ah udah lah mendingan gue buru-buru pergi.
“loh Bas,.. lo mau kemana?” Tanya Arya ama gue
“gue mau balik .. gue titip cewe nih ya”
“ooh iya … gue juga yang salah”
“ok gue duluan ya “
“ok bro ..”
“gue mau balik .. gue titip cewe nih ya”
“ooh iya … gue juga yang salah”
“ok gue duluan ya “
“ok bro ..”
Akhirnya gue tinggalin mereka berdua di sana, karna si Cika udah di suruh pergi ama Arya.
Sepulang sekolah gue liat mereka berdua jalan bareng .. Arya pakek bawain tasnya Riri lagi. Wah nggak beres nih. Gue ikutin mereka sampek parkiran. Ternyata mereka keluar bareng. Kemana ya mereka, tapi .. itu bukan urusan gue.meskipun berat, gue coba yakinin diri gue kalo gue nggak usah mikirin mereka berdua.
Besoknya gue liat mereka lagi berangkat bareng, dan sering banget gue liat mereka jalan bareng. Haah sebenarnya apa hubungan mereka berdua. Gue juga liat mereka akrap banget.
Gue jadi nggak tenang kalo gini. Kayak waktu gue liat dia lagi ngobrol ama Arya di pohon waktu latihan basket, nggak tau kenapa gue jadi sering liat mereka berdua. Tapi saat gue saling liat ama Riri, dia begitu aja nggak mau liat gue. Apa segitu bencinya ya dia ama gue.
Waktu gue lagi mau ambil motor gue di parkiran, nggak sengaja gue liat Riri lagi nyebrang dari minimarket, ternyata ada mobil kecepatan tinggi mau kea rah Riri. Gue nggak berpikir panjang lagi, gue lari kearah RIri … gue tarik dia yang cuman diem aja ngeliat tuh mobil mau nabrak dia. Dasar cewe bego’ .. kenapa dia nggak coba lari aja. Tapi kalo sampek Riri ketabrak, gue nggak bakal maafin diri gue sendiri.
Meskipun gue sampek terluka gue rela kok demi nglindungin dia. Gue udah lega dia bisa selamat ..
Tapi gue .. gue .. nggak tau apa yang terjadi ama gue. Saat gue sadar gue udah ada di rumah sakit. Apa Riri yang bawa gue kemari. ..
Tiba-tiba gue liat pintu ruangan gue terbuka, ternyata itu Riri. Gue heran kenapa dia nangis ngliat gue. Jujur gue paling nggak bisa ngliat cewe nangis.
“dasar bodoh” tiba-tiba Riri nangis .. gue kaget banget.
“lo .. ?? lo nangis?”
“dasar bodoh … kalo lo matio gimana?”
Gue cuman bisa ketawa ngliat dia kayak gitu, apa bener dia khawatir ama gue. Tapi nggak mungkin, pasti dia khawatir kalo Arya nyariin dia. Tapi dia nggak mau ninggalin gue, gue sempet seneng dengernya.
“lo ,.. nggak usah ngawatirin gue, lo balik aja”
“lo bego ya … mana bisa gue ninggalin lo”
“lo ,.. ngawatirin gue ya???”
“iya bego …” dia nepuk bahu gue sambil nangis.
“iya bego …” dia nepuk bahu gue sambil nangis.
Gue gugup banget, gue nggak bisa berpikir apa-apa jantung gue berdegup cepet banget. Gue nggak bisa nahan lagi perasaan ini, gue peluk dia. Tapi kenapa dia nggak berontak atau nglawan. Gue cuman bisa bilang makasih ama dia.
“makasih ..” gue bisikin kata itu ama dia.
“gue yang harus bilang makasih, dan … gue minta maaf buat kejadian tadi pagi”
Ternyata yang gue denger dari mulutnya adalah maaf. Gue nggak salah denger??. Seorang Riri yang jutek abis bilang maaf ama gue. Dan perasaan apa ini, hangat. Tubuh Riri hangat banget. Rasanya gue nggak bisa nglepasin tangan gue. Lama banget gue ngrasaain ini. Rasanya tenang. Perlahan Riri nglepasin pelukkan gue.
“lo tau ,.. sebenarnya gue juga yang salah, dulu gue pernah bikin lo malu di depan umum dan mungkin gara2 itu lo jadi benci banget ama gue” gue coba memperbaiki hubungan due ama dia.
“dan emang dugaan lo bener”
“maaf”
“dan gue pengen tau apa alasan lo ngerjain gue”
“gue … gue “
“dan emang dugaan lo bener”
“maaf”
“dan gue pengen tau apa alasan lo ngerjain gue”
“gue … gue “
“apa …”
“gue cuman mau deket ama lo”
Aduh bodohnya gue .. apa yang gue omongin tadi. Bisa geer ntar Riri.
“apah?”
“iya gue … ahhh lupain aja “
“iya gue … ahhh lupain aja “
“dasar” gue tepuk kakinya
“awww…”
“sory sory ..”
Haha hampir aja gue keceplosan, untung aja gue bisa ngeles. Tapi andai dia tau perasaan gue apa dia bakalan marah ya. Gue jadi inget kalo Riri lagi deket ama Arya. Apa mungkin mereka berdua lagi pacaran. Haduh hancur hati gue. Mungkin Riri bakalan di cariin ama Arya.
“lo nggak ad yang nyariin apa?” Tanya gue
“emb … sebenarnya gue nggak bawa ponsel.”
“lo takut Arya khawatir ya?”
“emb .. gue ..”
“emb .. gue ..”
“gue boleh nanya nggak “
Gue gunain kesempata ini buat nanya yang sebenernya ama Riri tentang hubungannya ama Arya.
“hah? Nanya? .. ooh apah?”
“sebenarnya apa hubungan lo ama Arya?”
“ gue ama Arya cuman temen, emang kenapa?”
“ooh ,.. nggak “
“ gue ama Arya cuman temen, emang kenapa?”
“ooh ,.. nggak “
“lo hubungin aja Arya pakek ponsel gue”
“ma … makasih …”
“ iya .. ada di tas gue”
“ iya .. ada di tas gue”
Huft gue lega ternyata mereka cuman temen. Gue jadi punya kesempatan buat deketin dia. Untung aja kejaian ini terjadi. Kalo nggak mungkin sampek kapanpun gue nggak bakalan bisa deketin dia.
Nggak lama Arya datang, mungkin mau jemput Riri.
“Riri …” panggil Arya sambil membuka pintu ruangan sambil tergesa-gesa.
“iya ..”
Arya terdiam sesaat ngelihat gue ama Riri di dalam ruangan.
‘”lo nggak papa kan?” sambil memegang Riri dan nyari bagian mana Riri yang terluka.
“nggak papa kok .. tapi”
“nggak papa kok .. tapi”
“makasi Bas, lo udah nolongin Riri ,..gue berhutang ama lo” katanya ke gue
“iya .. “ gue cuman bilang itu sambil pasrah
“ya udah kita pulang yuk, bokap lo pasti udah nyariin lo” ajak Arya ke Riri
“tapi.. dia??”
“tapi.. dia??”
“lo gimana Bas?”
“gue .. .. hah udahlah kalian berdua pulang aja .. besok gua juga udah baikan”
“Yang bener?”
“gue .. .. hah udahlah kalian berdua pulang aja .. besok gua juga udah baikan”
“Yang bener?”
“ udah lah pulang aja gue nggak papa kok”
“ya udah kita pulang dulu ya” kata Arya
“ya udah kita pulang dulu ya” kata Arya
Gue cuman bisa liat mereka berdua keluar dari kamar gue. Dan Riri sempet nengok ke gue, gue seneng dia masih khawatirin gue. Nggak lama nyokap gue dateng.
“ya ampun bastian .. kamu kenapa nak”
“nggak kok ma,.. tadi cuman jatuh”
“lalu gimana keadaan kamu”
“udah mendingan ma.. “
“nanti malem udah boleh pulang kata dokter”
“ya udah mama mau ngurusin administrasi dulu,.. kamu tunggu sebentar ya”
“iya ma …”
“nggak kok ma,.. tadi cuman jatuh”
“lalu gimana keadaan kamu”
“udah mendingan ma.. “
“nanti malem udah boleh pulang kata dokter”
“ya udah mama mau ngurusin administrasi dulu,.. kamu tunggu sebentar ya”
“iya ma …”
Akhirnya gue sampek di rumah, meskipun tubuh gue penuh tambalan,.. heehe. Yah nggak papa lah ,.. ini juga hal biasa.. yang agak parah palingan kaki gue yang agak pincang. Hahaha ..
Nggak lama ponsel gue bunyi,.. ternyata dari Riri. Gue seneng banget. Sampek2 gue loncat2 dan lupa kalo kaki gue sakit. Aww .. hahaha.
“Bas, gue Riri .. gimana keadaan lo?
Udah baikan belom … kalo ,lo besok belom masuk sekolah,
Gue kesana ya … “
Nggak kelamaan gue balas pesan RIri.
“gue udah baikan kok, palingan gue besok udah masuk ..
Sekarang gue udah di rumah, jadi besok lo nggak usah datang ke rumah sakit,
Makasih atas perhatian lo.”
“iya, tapi itu karena gue berhutang nyawa ama lo.,
Jadi gue nggak bisa se enaknya ninggalain lo,.’
Andai aja lo nggak ada, mungkin gue yang lagi ada di posisi lo,”
“iya makasih .. itu juga kebetulan aja gue lagi liat lo ..
Gue juga nggak bisa gitu aja liat lo di tabrak mobil”
“ya udah lo istirahat aja, biar cepet sembuh ya”
“itu pasti ,.. karna gue nggak selamah yang lo kira J”
“iya iya .. gua tau … jagoan :)”
Akhirnya gue tidur dengan perasaan tenang dan seneng banget. Gue seneng gara2 gue jadi bisa deket ama RIri. Mimpi apa gue semalam. Tapi gue harus segera istirahat biyar besok gue bisa ketemu ama Riri lagi. Moga aja hari2 setelah ini gue bisa lebih baik karna ada Riri J.
Bersambung ... RR
0 komentar: